Pada suatu masa, hiduplah seorang
pemuda bernama Bani. Ia bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan. Pada
suatu hari, pesanan di perusahaan tersebut sangatlah menumpuk. Ia pun bekerja
lebih keras, ia juga pulang lebih larut.
Sesampainya di rumah, ia mandi
sebentar untuk melepaskan Lelah. Setelah itu ia pergi ke kamarnya untuk tidur,
karena masih merasa lelah. Di tidurnya, ia bermimpi bahwa ia masuk ke sebuah
dunia lain. Dunia itu disebut Dunia Paralel. Dunia itu layaknya dunia biasa,
namun Nampak masih kuno. Makhluk yang menempati dunia itu juga bukanlah
manusia, melainkan siluman.
Di dalam mimpinya itu ia merasa
panik. Ia mencoba keluar dari mimpi anehnya tersebut, namun gagal. Ia makin
panik, karena ia belum mengetahui apapun tentang Dunia Paralel tersebut. Ia
juga tidak membawa bekal maupun perlengkapan apapun. Karena merasa panik, ia
berkeliling di sebuah kota. Di sana ia pergi ke hutan kota.
Walaupun dunia itu terlihat kuno,
namun pemandangannya sangatlah indah. Tidak seperti di dunia nyata, di Dunia
Paralel itu masih banyak tumbuh-tumbuhan yang tumbuh dengan asri dan subur,
sehingga udaranya sangat sejuk. Bangunan yang berada di kota memiliki ciri yang
khas, dan tertata dengan rapi. Bani bisa beristirahat dengan tenang. Ia mencoba
untuk beradaptasi di dunia tersebut.
Namun beberapa saat kemudian ia
mendengar suara. Ia kaget, dan langsung terbangun. Ternyata suara itu berasal
tepat di depannya. Setelah itu muncul seekor binatang yang tampak sangat buas.
Bani merasa takut, lalu segera menuruni bukit. Ia berlari tanpa tahu arah
maupun tujuannya. Beberapa saat ia berlari, ia sampai di sebuah desa kecil di
lereng gunung. Ia bersembunyi di sebuah bangunan di desa itu, ia pun selamat.
Setelah itu, ia berkeliling di
desa itu. Ia bertemu seorang anak yang tinggal di desa itu. Anak itu nampak
seumuran dengannya, ia juga sangat ramah. Anak itu mengerti bahwa Bani bingung
dan tersesat, ia mengijinkan Bani untuk tinggal sementara di rumahnya, dan
menjadi teman Bani di dunia itu.
Bani pun akhirnya dapat
beradaptasi di dunia itu. Ia juga sudah bisa Bahasa yang berlaku di desa itu.
Namun pada suatu hari, ia diberitahu oleh seorang kakek yang ditemuinya di
jalan. Kakek itu terlihat sedang kesusahan. Bani tidak tega, ia pun membantu
kakek tersebut. Setelah selesai, ia diberitahu bahwa ia adalah anak yang
ditakdirkan untuk mengalahkan Pemimpin Kerajaan Sihir Hitam. Ia sedikit kaget dan
bingung, bagaimana cara melawannya? Ia belum pernah mempelajari bela diri
sebelumnya.
Bani meminta diajarkan bela diri
ke sebuah sekolah bela diri yang cukup terkenal, letaknya di Ibu Kota. Bani
langsung bersekolah di sekolah bela diri tersebut. Di sana ia juga diajari cara
menggunakan pedang dan panah. Beberapa bulan kemudian, Bani sudah cukup mahir
dalam bela diri tersebut. Ia pun sudah percaya diri untuk melawan Pemimpin
Kerajaan Sihir Hitam.
Beberapa hari kemudian ia
berpamitan kepada penduduk desa. Namun penduduk desa tidak mengizinkan Bani
pergi sendirian. Penduduk desa memutuskan agar melawan Kerajaan Sihir Hitam
bersama-sama. Mereka pun setuju, dan keberangkatan di undur satu hari untuk
latihan dan persiapan, agar penyerangan dapat berlangsung dengan lancer.
Keesokan paginya mereka sudah
bersiap-siap. Tepat pada jam 09.00 pagi, mereka berangkat ke Kerajaan Sihir
Hitam. Sebelum itu mereka sudah berdoa. Sesampainya di sana mereka langsung
menyerbu kerajaan tersebut. Namun, tentu saja banyak sekali korban jiwa. Baik
di pihak penduduk desa maupun pihak Kerajaan Sihir Hitam. Keduanya kehilangan
banyak pasukan.
Bani yang menyaksikan penduduk
desa mati, tidak bisa menerima hal tersebut. Ia mengambil pedang seorang
penduduk yang sangat dihormatinya. Setelah itu ia terdiam sejenak, lalu… Blar!
Tiba-tiba saja tercipta sebuah ledakan besar. Nampaknya Bani mengamuk! Secara
tak sadarkan diri, ia menebas seluruh musuhnya dengan kedua pedang di
tangannya. Pertatungan itu pun berakhir dengan cepat.
Setelah pertarungan itu berakhir,
Bani terjatuh. Nampaknya ia menggunakan terlalu banyak tenaga pada saat
mengamuk. Ia pun menutup mata. Pada saat bangun, ia sudah berada di kehidupan
nyata. Ia bingung apa yang terjadi sebelum itu, karena ia tidak sadar pada saat
mengamuk. Namun, ia masih tetap ingat pesan Tetua Desa, bahwa walaupun ia sudah
kembali ke dunia nyata, ia tidak sombong dan menceritakan tentang dunia itu ke
siapapun, bahkan ke teman dekatnya sekalipun. Ia menjalankan pesan tersebut
sebaik-baiknya, dan menjalani kehidupan sehari-harinya kembali.
TAMAT
Pesan Amanat
Cerita:
Dengan membantu orang yang kesusahan dan dengan
menuruti kata-kata orang tua maka akan mendapat bantuan dan keselamatan
PROFIL PENULIS
Nama : Ferdyan Hanifa Maheswara
No : 09
Kelas : 4.S1.1
No
HP : 081944920284
Medsos/email
: ferdyanmaheswara@gmail.com
Alamat : Permata Jingga blok Palem Jingga no. 6
ingin mendapatkan uang banyak dengan cara cepat ayo segera bergabung dengan kami di f4n5p0k3r
ReplyDeletePromo Fans**poker saat ini :
- Bonus Freechips 5.000 - 10.000 setiap hari (1 hari dibagikan 1 kali) hanya dengan minimal deposit 50.000 dan minimal deposit 100.000 ke atas
- Bonus Cashback 0.5% dibagikan Setiap Senin
- Bonus Referal 20% Seumur Hidup dibagikan Setiap Kamis
Ayo di tunggu apa lagi Segera bergabung ya, di tunggu lo ^.^