Tuesday, January 8, 2019

PETUALANGAN DI DUNIA PARALEL

 Karya: Ferdyan Hanifa Maheswara

Pada suatu masa, hiduplah seorang pemuda bernama Bani. Ia bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan. Pada suatu hari, pesanan di perusahaan tersebut sangatlah menumpuk. Ia pun bekerja lebih keras, ia juga pulang lebih larut.

Sesampainya di rumah, ia mandi sebentar untuk melepaskan Lelah. Setelah itu ia pergi ke kamarnya untuk tidur, karena masih merasa lelah. Di tidurnya, ia bermimpi bahwa ia masuk ke sebuah dunia lain. Dunia itu disebut Dunia Paralel. Dunia itu layaknya dunia biasa, namun Nampak masih kuno. Makhluk yang menempati dunia itu juga bukanlah manusia, melainkan siluman.
Di dalam mimpinya itu ia merasa panik. Ia mencoba keluar dari mimpi anehnya tersebut, namun gagal. Ia makin panik, karena ia belum mengetahui apapun tentang Dunia Paralel tersebut. Ia juga tidak membawa bekal maupun perlengkapan apapun. Karena merasa panik, ia berkeliling di sebuah kota. Di sana ia pergi ke hutan kota.
Walaupun dunia itu terlihat kuno, namun pemandangannya sangatlah indah. Tidak seperti di dunia nyata, di Dunia Paralel itu masih banyak tumbuh-tumbuhan yang tumbuh dengan asri dan subur, sehingga udaranya sangat sejuk. Bangunan yang berada di kota memiliki ciri yang khas, dan tertata dengan rapi. Bani bisa beristirahat dengan tenang. Ia mencoba untuk beradaptasi di dunia tersebut.
Namun beberapa saat kemudian ia mendengar suara. Ia kaget, dan langsung terbangun. Ternyata suara itu berasal tepat di depannya. Setelah itu muncul seekor binatang yang tampak sangat buas. Bani merasa takut, lalu segera menuruni bukit. Ia berlari tanpa tahu arah maupun tujuannya. Beberapa saat ia berlari, ia sampai di sebuah desa kecil di lereng gunung. Ia bersembunyi di sebuah bangunan di desa itu, ia pun selamat.
Setelah itu, ia berkeliling di desa itu. Ia bertemu seorang anak yang tinggal di desa itu. Anak itu nampak seumuran dengannya, ia juga sangat ramah. Anak itu mengerti bahwa Bani bingung dan tersesat, ia mengijinkan Bani untuk tinggal sementara di rumahnya, dan menjadi teman Bani di dunia itu.
Bani pun akhirnya dapat beradaptasi di dunia itu. Ia juga sudah bisa Bahasa yang berlaku di desa itu. Namun pada suatu hari, ia diberitahu oleh seorang kakek yang ditemuinya di jalan. Kakek itu terlihat sedang kesusahan. Bani tidak tega, ia pun membantu kakek tersebut. Setelah selesai, ia diberitahu bahwa ia adalah anak yang ditakdirkan untuk mengalahkan Pemimpin Kerajaan Sihir Hitam. Ia sedikit kaget dan bingung, bagaimana cara melawannya? Ia belum pernah mempelajari bela diri sebelumnya.
Bani meminta diajarkan bela diri ke sebuah sekolah bela diri yang cukup terkenal, letaknya di Ibu Kota. Bani langsung bersekolah di sekolah bela diri tersebut. Di sana ia juga diajari cara menggunakan pedang dan panah. Beberapa bulan kemudian, Bani sudah cukup mahir dalam bela diri tersebut. Ia pun sudah percaya diri untuk melawan Pemimpin Kerajaan Sihir Hitam.
Beberapa hari kemudian ia berpamitan kepada penduduk desa. Namun penduduk desa tidak mengizinkan Bani pergi sendirian. Penduduk desa memutuskan agar melawan Kerajaan Sihir Hitam bersama-sama. Mereka pun setuju, dan keberangkatan di undur satu hari untuk latihan dan persiapan, agar penyerangan dapat berlangsung dengan lancer.
Keesokan paginya mereka sudah bersiap-siap. Tepat pada jam 09.00 pagi, mereka berangkat ke Kerajaan Sihir Hitam. Sebelum itu mereka sudah berdoa. Sesampainya di sana mereka langsung menyerbu kerajaan tersebut. Namun, tentu saja banyak sekali korban jiwa. Baik di pihak penduduk desa maupun pihak Kerajaan Sihir Hitam. Keduanya kehilangan banyak pasukan.
Bani yang menyaksikan penduduk desa mati, tidak bisa menerima hal tersebut. Ia mengambil pedang seorang penduduk yang sangat dihormatinya. Setelah itu ia terdiam sejenak, lalu… Blar! Tiba-tiba saja tercipta sebuah ledakan besar. Nampaknya Bani mengamuk! Secara tak sadarkan diri, ia menebas seluruh musuhnya dengan kedua pedang di tangannya. Pertatungan itu pun berakhir dengan cepat.
Setelah pertarungan itu berakhir, Bani terjatuh. Nampaknya ia menggunakan terlalu banyak tenaga pada saat mengamuk. Ia pun menutup mata. Pada saat bangun, ia sudah berada di kehidupan nyata. Ia bingung apa yang terjadi sebelum itu, karena ia tidak sadar pada saat mengamuk. Namun, ia masih tetap ingat pesan Tetua Desa, bahwa walaupun ia sudah kembali ke dunia nyata, ia tidak sombong dan menceritakan tentang dunia itu ke siapapun, bahkan ke teman dekatnya sekalipun. Ia menjalankan pesan tersebut sebaik-baiknya, dan menjalani kehidupan sehari-harinya kembali.

TAMAT

Pesan Amanat Cerita:
Dengan membantu orang yang kesusahan dan dengan menuruti kata-kata orang tua maka akan mendapat bantuan dan keselamatan

PROFIL PENULIS

Nama    : Ferdyan Hanifa Maheswara
No        : 09
Kelas    : 4.S1.1
No HP   : 081944920284
Medsos/email : ferdyanmaheswara@gmail.com
Alamat : Permata Jingga blok Palem Jingga no. 6




           


1 comment:

  1. ingin mendapatkan uang banyak dengan cara cepat ayo segera bergabung dengan kami di f4n5p0k3r
    Promo Fans**poker saat ini :
    - Bonus Freechips 5.000 - 10.000 setiap hari (1 hari dibagikan 1 kali) hanya dengan minimal deposit 50.000 dan minimal deposit 100.000 ke atas
    - Bonus Cashback 0.5% dibagikan Setiap Senin
    - Bonus Referal 20% Seumur Hidup dibagikan Setiap Kamis
    Ayo di tunggu apa lagi Segera bergabung ya, di tunggu lo ^.^

    ReplyDelete

Prestasi Tim Paduan Suara SMPN 3 Malang

Prestasi Spenti Teenage Choir Paduan Suara SMP Negeri 3 Malang bernama "Spenti Teenage Choir" berhasil menyabet juara pertama...